Jumat, 29 November 2019

60 menit terapi sholat bahagia


60 Menit Terapi Sholat Bahagia
( Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag )



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pada tanggal 23 noverber 2019. Saya bersama teman teman saya melalukan kuliah wada’ mata kuliah Studi Al-Qur’an yang dibimbing langsung oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag pada kuliah wada’ ini terdapat yang namanya Pendalaman Terapi Sholat Bahagia (PTSB). PTSB ini dilaksanakan di kantor Qun Yaquta Jl. Siwalankerto Tengah 141 Surabaya. Kami pada waktu itu harus datang pukul 06:00 WIB. Pelaksaanan kuliah wada’ ini bukan hanya dari prgram studi ilmu komunikasi saja namun dari berbagai program studi yang diajar oleh beliau.

Prof. Dr. Moh. Ali aziz, M.Ag Dilahirkan di Soko-Glagah-Lamongan Jawa Timur pada tanggal 9 juni 1957. Beliau alumni Ponpes Ihyaul Ulum Gresik (1975), sebagai Guru Besar/Dosen Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya (sejak 2004), Dosen Teladan Nasional (2004 dan 2007); Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (2000-2004),  Pengurus Pembaca dan Penghafal Al Qur‟an Jatim (1994), Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia (APDI 2009-2013), Unsur Ketua Majlis Ulama Indonesia Jawa Timur,  Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Jatim (2011-sekarang),  Konsultan Pendidikan Yayasan Khadijah (2011-sekarang), Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur‟an,  Asesor Badan Akreditas Nasional Perguruan Tinggi, Saksi Ahli Mahkamah Konstitusi tentang UU Penodaan Agama,  Penasehat Forum Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama,  Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur‟an Al Khoziny Sidoarjo (1990-2009), Ketua Yayasan Pendidikan dan Sosial Kyai Ibrahim Surabaya, Penasehat Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (2002), Pengisi Mimbar Islam di TVRI Jatim, Kajian Terapi Shalat Bahagia di RRI Jakarta pro.1 dan 4 (91.2 FM dan 92.8 FM) dan Radio El Victor Surabaya 93.3 FM. 68 68 Imam shalat taraweh/penceramah Islam di Hongkong, Macau, Senzhen, Taiwan (2000-sekarang), Malaysia (2004), Jepang (2006 dan 2013), Iran (2008, 2009,2010), Mauritius-Afrika (2000), Inggris (2005), Belanda (2007), Bangladesh (2013, 2014, 2015) dan Nepal (2015).

Beliau juga sebagai penulis buku. Buku buku yang ditulis: 60 Menit Terapi Shalat Bahagia (UIN Sunan Ampel Press 2012), Doa-doa Keluarga Bahagia (Surabaya, Kun Yaquta Foundation 2014), Bersiul di Tengah Badai (UIN Sunan Ampel Press 2015), Teknik Khutbah Jum‟at Komunikatif (UIN Sunan Ampel Press 2014), Mengenal Tuntas Al-Qur'an (MTQ) (Imtiyaz Surabaya 2011), Ilmu Dakwah (Prenada Jakarta 2008), Dinamika Kepemimpinan Tokoh Agama di Indonesia (Harakat Media Jogjakarta 2008), Hijrah (Harakat Media Jogjakarta 2008), Solusi Ibadah di Hongkong (Duta Masyarakat Surabaya 2008), Solusi Ibadah di Taiwan (PCNU Taipei 2010), (2014), Dalam proses cetak buku Terapi Shalat Sukses Studi. Pengisi kajian tafsir Al Qur‟an di Majalah Nurul Hayat dan Majalah Sabilillah, konsultasi keluarga bahagia di Majalah Nurul Falah; rubrik agama di Harian Duta Masyarakat (2010), Rubrik Dialog mualaf di Tabloid Nurani (1995).

Sebelum diadakannya kuliah wada’ kami diminta untuk menulis 10 orang yang paling berjasa dalam hidup hita, 5 orang yang paling membuat kita jengkel, 10 dosa besar yang pernah kita lakukan, 30 nikmat terbesar yang Allah berikan, dan 10 masalah yang tengah kita hadapi. Semua itu untuk kita curahkan semuanya pada saat pelaksanaan Pendalaman Terapi Sholat Bahagia (PTSB).

Pendalaman Terapi Sholat Bahagia (PTSB) memberikan bimbingan dan praktek sholat agar kita dapat memahami dan mengingatnya lebih kuat dan bisa memantapkan keyakinan akan kebesaran Allah, percaya diri dan optimis akan penyelesaian semua masalah menuju hidup bahagia. Ketika, orang-orang telah melaksanakan shalat penuh dengan renungan ia akan menjadi bahagia karena menjadi beban pikirannya telah dialihkan kepada Allah. Disamping itu, shalat juga membawa dampak bagi kesehatan tubuh manusia. Shalat yang dilakukan dengan penghayatan bisa menguatkan keimanan dan sikap tawakkal. Keimanan dan tawakkal yang dimiliki seseorang bisa mengarahkan 60.000 pikiran untuk bersikap positif, pantang menyerah bahkan menikmati tantangan yang dihadapi. Melalui keimanan dan tawakkal itu pula, seseorang bisa membuang “emosi negatif” yaitu beban masalah yang memberatkan jiwanya. 

Emosi negatif itu menjadi hilang karena dengan penghayatan diri yang sepenuh hati kepada Allah, berarti ia telah yakin bahwa semua masalahnya diambil alih oleh Allah. Dengan kata lain, Allah SWT tidak akan mengambil alih penyelesaian masalah yag dihadapi seseorang, jika ia tawakkal hanya setengah hati. Shalat harus dikerjakan dengan tumakninah (thum’ninah) yaitu tenang, sabar dan tidak tergesa-gesa. Rukuk, bangkit dari sujud dan seterusnya harus dikerjakan dengan perlahan-lahan. Sikap tumakninah menyelamatkan manusia dari penyakit hurry sickness, serba terburu buru, serba ingin instan, serba tidak sabar (impatience), yang semuanya sumber kegelisahan dan konflik. 
Shalat sebagai ekspresi syukur juga membentuk pribadi yang qana‟ah (menerima yang ada). Kita nantinya akan khusyuk merasa sangat senang dengan karunia Allah yang telah diterima, puas dengan apa yang ada dan tidak mengangan-angan, apalagi menghitung-hitung apa yang belum ditangannya. Melalui sikap hidup yang demikian, seseorang telah mengurangi daftar keinginan. Semakin banyak keinginan, semakin tinggi resiko kegelisahan. Jika kita  telah berhasil menanamkan jiwa T2Q (tawakkal, tumakninah dan qana‟ah), maka ia tidak hanya berbahagia, tapi juga membahagiakan orang lain. Tutur katanya menjadi enak di dengar, sikapnya santun, merendah dan menghargai semua orang tanpa melihat latar belakang masing-masing dan lebih suka memberi dari pada menerima. Bandingkan dengan wajah dan tutur kata orang yang rakus, pemarah, kikir dan serrba gugup. Wajahnya kusut dan terlihat penuh beban. Sudah pasti ia orang yang tidak bahagia. Ia tidak hanya menderita, tapi juga menimbulkan penderitaan orang yang bergaul dengannya.

Adapun kata kunci  dari penerapan sholat bahagia yaitu Subhan Turut Hadir di Masjid untuk Aksi Sosial. Yang pertama Subhan (syukur, bimbingan, ketahanan iman) SYUKUR. “Wahai Allah, aku bersyukur atas semua nikmatMu” Bimbingan. “Bimbinglah aku dan keluarga agar tetap di jalan yang benar.” KETAHANAN IMAN. “berilah aku ketahan iman untuk melawan hawa nafsu agar selamat dari kesesatan dan murka-Mu” doa iftitah itu yang harus dihayati. Yaitu: Ikhlas (hanya menyembah dan meminta kepada Allah), Sanjungan (mengagungkan Allah), dan Ampunan (memohon ampunandan dijauhkan dari dosa) .Disingkat “ISA” (Ikhlas, Sanjungan, dan Ampunan). Yang kedua Turut (tunduk, menurut) TUNDUK “Wahai Allah, aku tunduk membungkuk kepada kehendakMu. Aku bertasbih dan menyerahkan hidup-mati, sehat-sakit, kaya-miskin, dan semua persoalan kepada-Mu”. MENURUT “aku menurut kepada semua perintah-Mu. Ampunilah dosa-dosaku”. Dari doa tersebut terdapat Makna isi doa yang harus dihayati, yaitu: Tunduk kepada kehendak Allah (karena Allah maha penguasa alam semesta, hidup-mati, kayamiskin, suka-duka, semuanya adalah kehendak Allah. Dan Menurut sepenuhnya kepada perintah Allah (mohon ampunan atas ketidak taatan yang pernah dilakukan). Yang ketiga Hadir (hak pujian,takdir allah) HAK PUJIAN. ”Hanya Engkau yang berhak dipuji. Ampunilah aku karena terlintas mengharap pujian manusia” TAKDIR ALLAH “semua hal terjadi atas takdir-Mu. Aku ridla dan ikhlas menerimanya”. Dari doa tersebut terdapat makna isi doa yang harus dihayati, yaitu: Hak pujian (Hak pujian hanyalah bagi Allah). Dan Takdir Allah (yakin bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah). Yang ke empat Masjid (maaf,sinar, jiwa dan raga) MAAF. “Maafkan dosa-dosaku, bapak-ibu dan keluargaku” SINAR. “Sinarilah hati, lidah, mata dan telingaku agar selalu berbuat yang Engkau ridhoi” JIWA DAN RAGA “ jiwa dan ragaku dalam kekuasaan-Mu. Aku serahkah hidup-mati,sehat-sakit,kaya-miskin dan semua persoalan kepadamu”. Makna  isi  doa yang  harus dihayati  adalah  maaf  (mohon ampun  kepada  Allah, sinar (mohon nur untuk menjalankan perintah-Nya), jiwaraga diserahkan (pasrah sepenuhnya kepada Allah). Yang kelima Aksi Wahai Allah, berikanlah aku “Ampunan, Kasih, Sejahtera dan Iman”. Makna isi doa yang harus dihayati adalah  ampunan,  kasih  sayang (rahmat  Allah),  sejahtera (terpenuhinya  kebutuhan  lahir batin  dan  jasmani  rohani),  dan iman  (penguatan  iman  dan petunjuk  sepanjang  waktu). Yang terakhir Sosial (sholawat,persaksian,tawakal) SHOLAWAT “sholawat dan salam untuk nsbi SAW. Berikan aku kekuatan mencontoh akhlaknya”. PERSAKSIAN “ aku bersaksi tiada tuhan selain Engkau, dan Muhammad adalah utusan-Mu. Jadikan syahadat pegangan dan penutup hidupku”. TAWAKAL “aku serahkan hidup-mati,sehat-sakit, kaya-miskin dan semua persoalan pada-Mu.” Makna isi doa yang harus dihayati adalah  Sholawat  (shalawat  dan salam  untuk nabi), Persaksian (peneguhan untuk berpegang teguh  pada  syahadat  dalam hidup dan mati), Tawakkal (penyerahan diri sepenuhnya pada  kehendak Allah).

Dalam hidup itu tidak ada yang namanya tidak ada masalah. Semua orang pasti memiliki masalah yang berbeda beda. Dalan PTSB ini mengajarkan kita bahwa betapa canggihnya sholat, masalah masalah yang kita hadapi bisa kita curahkan segalanya dalam sholat kita. Segala bentuk keluh kesah kita bisa kita sampaikan kepada Allah SWT. Bukan mengeluh namun kita hanya bercerita kepada Allah SWT. Allah maha tau batas kemampuan hamba-Nya. Allah tidak akan memberikan cobaan kepada diatas kemampuan hamba-Nya. Hadapilah semua masalah bukan menghindari masalah karena Allah tidak akan membiarkan kita sendirian.

Allah selalu punya rencana yang terbaik untuk kita. Apa yang kita rencanakan belum tentu baik untuk kita, namun apa yang Allah rencanakan untuk kita pasti itu yang terbaik untuk kita. Segala sesuatu didunia tidak ada suatu masalah yang tidak dapat diselesaikan asalkan kita bersabar dan selalu berdoa dan berusaha. Terkadang kita melihat ada orang yang sukses memiliki kehidupan yang berkecukupan tanpa kekurangan apapun. Terus kita protes kepada Allah “ Ya Allah, kenapa aku harus dilahirkan dikeluarga yang kurang mampu” ataupun “ Ya Allah kenapa saya selalu susah dan selalu gagal” kita selalu berfikir bahwa Allah tidak adil padahal sukses atau tidak itu juga tergantung usaha kita. Apabila Allah menghendaki kita berkecukupan namun kita bermalas-malasan sampai kapanpun tidak akan pernah sukses. Orang sukses itu juga berproses tidak mungkin dia lahir langsung menjadi orang sukses. Jadi kita sebagai umat muslim janganlah selalu mengeluh kepada Allah namun kita juga harus berdoa, berusaha dan percaya bahwa takdir Allah lah yang paling terbaik untuk kita. 

Begitu juga dengan Penerapan Terapi Sholat Bahagia (PTSB) yang dibimbing oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag kitaharus menjalankannya secara rutin bukan hanya sekali saja. Insyaallah apa yang kita curahkan kepada Allah SWT suatu saat akan terkabulkan walaupun kita tidak tau kapan itu waktunya.

Sekian dari blog yang saya tulis ini, semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Wassalamualaikum warahmatullah iwabarakatuh.